AGROWISATA, Sidarhan Saini – Sang Perintis Jeruk Gerga

Spread the love

Argowisata dalam bahasa yang paling sederhana artinya kegiatan pariwisata yang memanfaatkan lahan pertanian dan perkebunan. Bisakah argowisata dikembangkan di Kota Pagaralam? Jawabannya sangat bisa dan harus bisa.

BeriPa.Com// Pohon jati, yang sepintas tidak ada “indah-indahnya” ternyata dapat dijadikan argowisata. Serombongan turis dari Belanda, pada sekitar tahun 2013 lalu berkunjung ke Kota Tegal, Jawa Tengah. Mereka mengaku datang ke Tegal hanya ingin melihat kebun jati yang ada di sana. Usut punya usut, mereka (para turis itu) ternyata adalah para cucu dan cicit orang-orang Belanda yang pernah bekerja di perkebunan jati itu. Mereka hanya ingin sekadar mengenang leluhur.

Pihak Perhutani setempat tampaknya punya gagasan yang brilian. Mereka membuat rumah-rumah pohon sederhana pada pokok pohon-pohon jatinya. Alhasil, dari rencana kunjungan beberapa jam saja, para turis itu tinggal selama tiga hari. Pihak Perhuni pun mendapat untung, yaitu dari hasil sewa pondok itu, juga dari penjualan makanan, minuman dan keperluan mereka selama tinggal di hutan.

Di Pagaralam, cerita tersebut mungkin tidak dapat diadaptasi, karena Pagaralam tidak memiliki kebun jati. Tapi Pagaralam memiliki perkebunan kopi yang luas. Hampir semua penduduk Pagaralam memiliki kebun kopi. Di kebun-kebun kopi itu umum terdapat dangau-dangau, tempat di mana pemilik kebun tinggal selama berada di kebun. Bagi kita, dangau-dangau itu mungkin biasa-biasa saja. Tetapi di mata orang asing, boleh jadi itu menjadi tempat yang sangat eksotik untuk dikunjungi, dilihat bahkan ditinggali. Asal, tentu saja melalui upaya, kreativitas dan promosi tertentu.

Karena pada dasarnya agrowisata adalah produk dari kreativitas, – daya kreasi manusia.

Geliat agrowisata di Pagaralam sesungguhnya sudah terjadi jauh sebelum wilayah ini menjadi Kota, yaitu dengan adanya perkebunan teh Gunung Dempo. Rata-rata wisatawan  datang ke Pagaralam untuk menikmati pemandangan kebun teh dengan udaranya yang sejuk segar.  Tetapi, sebagai salah satu destinasi wisata andalan Sumsel, kebun teh saja tentu saja belum cukup. Ada masih banyak lahan di sini yang dapat dikembangkan untuk kepentingan ini.

Pada sekitar tahun 2006, beberapa orang warga mulai mengembangkan tanaman Salak Pondoh. Cukup sukses. Sekarang Pagaralam sudah cukup dikenal sebagai kota penghasil salak di Sumsel. Buah pokat yang semula dipandang sebelah mata, kini sudah dikemas dan dijual sebagai oleh-oleh yang banyak digemari wisatawan. Tanaman stroberi pun sudah dicoba, tetapi karena cara penanamannya belum sempurna, produksinya pun masih terbatas.

Pada sekitar tahun 2013, Sidarhan Saini, (45), warga Dusun Gunung Agung Pauh, Kelurahan Agunglawangan, Kecamatan Dempo Utara, merintis mengembangkan tanaman Jeruk Gerga. Bentuk pohonnya eksotik dan produksinya wow… hanya dalam waktu tiga tahun setelah ditanam,  jeruk itu terus berbuah. Dipetik setiap hari tak pernah habis, – buahnya malah semakin ranum.

Kini kebunnnya di Dusun Gunung Agung Pauh tiap hari dikunjungi wisatawan, atau warga Pagaralam sendiri yang ingin mencicipi cita-rasa jeruk Gerga yang manis segar. Heriyanto (50), orang yang dipercaya mengelola kebun jeruk itu, mengaku setiap hari turun ke Kota Pagaralam untuk sekadar mengantarkan jeruk Gerga yang dipesan orang melalui teleponnya.

Pada awalanya, Sidarhan Saini adalah petani yang selama puluhan tahun menggeluti variasi tanaman wortel, cabe, kubis, sawi serta sayur-mayur lainnya. Suatu hari, penjual pupuk langganannya, menunjukkan contoh buah jeruk itu. Sudarhan tertarik karena rasanya yang manis, segar, dan bentuknya menarik,- besar dengan warna kuning tua.

Tahun 2013 Sidarhan mencabuti tanaman kopinya di  Dusun Gunung Agung Pauh dan menggantinya dengan tanaman jeruk itu. Bibitnya dibeli dari Kabupaten Lebong, Bengkulu. Tahap pertama Sidar, demikian ayah tiga anak itu biasa disapa, menanam 500 batang bibit di atas tanah seluas satu setengah hektare.

Jeruk Gerga Sidarhan sekarang sedang menjadi tren di Pagaralam. Sidar memang tidak menjual jeruk produksinya itu ke pasaran. Ia lebih suka melihat pembeli datang ke kebunnya dan membiarkan orang memetik sendiri buah jeruk yang dipilih.

Buah jeruk jenis keprok itu konon berasal dari Israel yang dikembangkan secara besar-besaran di Thailand. Seorang petani bernama Gerga, warga Rimbo Pengadang, Kabubapen Lebong, Bengkulu, membeli bibit jeruk itu dan mengembangkan di lahan miliknya di Desa Rimbo Pengadang. Demikian cerita mengapa jeruk keprok rimau itu dinamakan Gerga.

Zukarnain (23), warga Dusun Pagardin, Kelurahan Pagarwangi, Kecamatan Dempo Utara, coba mengembangkan sayur-mayur dengan cara agrophonik. Dalam “pot” terbuat dari pipa paralon dia menanam aneka sayuran seperti kembang kol, bayam merah, tomat, seledri (sop) dan sawi-sawian. Tanaman yang menggunakan media tanam air dengan pupuk organik cair itu sepintas tampak seperti tanaman hiasan. Tapi siapa sangka kalau tanaman hiasan rumah itu bisa dipanen dan dijual sebagai sayur-mayur?

Zuklkarnain belum mengembangkan kreasinya itu secara besar-besaran. Ia hanya menggunakan halaman rumanya di Pagardin dan rumah orangtuanya di Jalan Dua Jalur, terusan Jalan Simpang Padang Karet, Kelurahan Tumbakulas, Kecamatan Pagaralam Selatan. Tetapi hasil panennya sudah dapat membantu biaya kuliahnya di STKIP Muhammadiyah, Kota Padaralam.

Ismail Saleh,  pensiunan direktur Bank Sumselbabel berusia 62 tahun, juga sedang mengembangkan argowisata ini. Di kampung halamannya, Dusun Gunung Agung Tengah, Kelurahan Agunglawangan, Kecamatan Dempo Utara, ia menanam sekitar 300 batang tanaman jeruk Gerga, di atas lahan tanah seluas satu hektare. Tapi usia tanamannya baru sekitar 10 bulan dan belum dapat dipanen.

Selain itu, Ismail Saleh juga sedang coba mengembangkan pohon pinang, pinang jenis Betara yang pohonnya bagus dan hasilnya tak kalah bagus. Pohon pinang jenis ini, menurut Ismail sangat baik untuk dijadikan tanaman hiasan kota, sebagaimana Palm Raja yang pernah menjadi primadona. Jenis pinang ini menghasilkan buah yang nilai ekonomisnya cukup tinggi.        Di lahan tanah miliknya seluas satu hektare, di Dusun Airbingkuk, Gumai, Ismail mencoba menanam sekitar 600 batang tanaman itu.

Buah pinang ini sangat diminati pasar luar negeri. Buahnya konon dapat dijadikan semacam bahan pewarna tekstil, obat-obatan dan kosmetik. Produksinya cukup tinggi, yaitu bisa dipanen dua kali dalam sebulan. Dan pohon pinang ini masa produsinya cukup lama, bisa mencapai puluhan tahun.

“Pohon pinang ini bisa ditanam di lahan perkebunan kopi sebagai tumpangsari. Saya kira hal ini dapat dijadikan alternatif, untuk menjawab keluhan petani kopi yang setiap tahun selalu mengalami masa paceklik,” kata Ismail//Soe

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *